Anak-anak muda ini menyalurkan hasrat seninya di jalanan. Tak hanya sekadar mencorat-coret. Aksi mereka selalu menyiratkan pesan, baik kritik sosial ataupun politik. Seperti apa?
DI Jogja atau Surakarta, mural sudah menjadi bagian dari estetika kota. Tapi tidak di Semarang. Pemerintah Kota masih menganggap mural sebagai aksi iseng anak-anak muda tak bertanggungjawab. Tak pelak, kehadiran mereka disamakan dengan para pencorat-coret tembok biasa yang menyalurkan nafsu vandalismenya.
Hal ini memunculkan keprihatinan bagi para bomber Semarang (sebutan seniman mural) yang ingin berkreasi secara legal dan bertanggungjawab. Namun, ketika cita-cita untuk menggelar aksi mural bersama tak mendapat sambutan hangat dari pemerintah, maka perkembangan mereka pun terhambat.

Siapa sajakah para bomber di Semarang? Jika mau mencari sebenarnya banyak. Di beberapa tembok yang banyak muralnya, tertera beberapa nama seperti Pasukan Stensil Kota, Pesona Aerosol, Air Api, Lawan dan 12PM. Namun yang bernaung dalam komunitas resmi tidak banyak atau malah hampir tidak ada. Sejauh pengamatan koran ini, satu-satunya komunitas bomber di Kota Atlas hanyalah 12 PM.
Komunitas yang berdiri 2 tahun lalu ini, tak hanya sekadar mencorat-coret tembok biasa. Mereka selalu mengupayakan aksi mereka secara terkonsep, legal, dan target yang jelas. Meski struktur organisasinya tidak ada, namun mereka selalu menjalankan aksinya secara terorganisasi. “Kami berupaya selalu meminta izin kepada pemilik tembok dan menyodorkan konsep yang akan dibuat,” kata pentolan 12 PM, Arif R, 23.

Nama 12 PM yang berarti 12 Peace Maker baru mereka resmikan sekitar setahun lalu. Sebelumnya, mereka mengambil nama Semarang Art Family (SAF). Semua anggota 12 PM bukan mahasiswa jurusan seni rupa. Mereka belajar secara otodidak. Meski begitu, mereka masing-masing memiliki keahlian sendiri, baik di graffiti, mural maupun stensil. Prestasi mereka ditunjukkan dalam even Black Art Fusion beberapa waktu lalu. Dari tiga juara, juara 1 dan III diraih anggota 12 PM. Komunitas yang menjadikan salah satu kucingan di Jalan Pahlawan sebagai tempat mangkal ini telah banyak menelurkan karya di berbagai tembok di Kota Semarang. Salah satunya, terpampang di tembok di pinggir jalan di Jalan Kaliwiru, dekat SMA St Louis. Di situ terdapat gambar kepala monyet sedang berpikir bertuliskan What the Fuck Vote?, dengan kata Fuck dicoret.

12 PM juga pernah menggarap salah satu dinding Gereja Matter Dei. Atas izin otoritas gereja, Arif dkk mengajak masyarakat merenung dengan beragamnya kenakalan remaja seperti narkoba, pornografi, dan free sex.
Aksi terbaru komunitas beranggotakan 15 orang ini adalah mural Cicak Vs Buaya di tembok Undip, Jalan Hayam Wuruk. Mural hasil kerjasama dengan LSM Antikorupsi KP2KKN Jateng ini terbentang sepanjang hampir 25 meter. Mural berlatar merah ini menggambarkan bagaimana buaya sebagi representasi penegak hukum yang korup adalah metamorfosa dari para koruptor.

Namun buaya yang superbesar itu ternyata dapat dikalahkan oleh seekor cicak yang kecil. Cicak sebagai simbolisasi para aktivis antikorupsi itu berhasil menjerat dan membekap mulut buaya dengan tali warna putih. Penggunaan simbol cicak sebagai manifestasi gerakan antikorupsi sekarang memang sedang tren. Gara-garanya, Cicak yang berasal dari kepanjangan gerakan Cinta Indonesia Cinta KPK itu bentuk dukungan kepada KPK yang sedang digembosi oleh Polri.
Kembali kepada 12 PM, komunitas yang terdiri atas mahasiswa dan pekerja ini bermula dari kumpul-kumpul biasa. Kebetulan, Arif Cs memiliki hobi seni dan kemudian sering diberi job untuk menggarap dekorasi acara pentas seni. Dari sini kemudian muncul ide membuat komunitas seni jalanan (street art).

Street art, menurut Arif, banyak ragamnya. Jika yang digambar di tembok hanyalah garis-garis atau kata itu disebut sebagai graffiti. Namun jika berupa gambar yang menyampaikan pesan tertentu, baru disebut mural. Selain graffiti dan mural, ada lagi stensil. Itu penyebutan untuk gambar yang pembuatannya menggunakan cap dari kertas yang disemprot cat pylox.
“Ada lagi posterisasi dan stikerisasi, yaitu membuat poster dan stiker berisi pesan tertentu yang ditempelkan di jalan-jalan kota. Biasanya tentang isu terhangat sekarang,” kata Arif yang juga pendiri 12 PM.
Sembari menggoreskan kuasnya ke tembok, Arif menceritakan kegiatan itu dilakukannya sebagai bentuk pengekspresian diri. Menurutnya, seni lukis jalanan mempunyai banyak keuntungan. Selain murah dan populis, karakternya juga mudah dicerna publik dengan memanfaatkan ruang-ruang publik yang mangkrak.
Aksi mereka berbeda dengan coretan-coretan di dinding yang biasanya dilakukan pelajar SMA. Coretan begituan jelas hanya sekadar iseng yang mendekati vandalism.
Namun mural, graffiti, atau stensil oleh para bomber lebih dari sekedar gambar. Mereka mucnul dan mengeksekusi tembok kosong menjadi arena kritik, yang bertanya, dan tawaran yang mau-tidak-mau (karena dilihat) harus dipikirkan oleh masyarakat.
Seperti mural cicak vs buaya yang ditambahi tulisan Cicak Beraksi Buaya Mati itu. masyarakat yang awam akan tersenyum manggut-manggut dan memandang itu sebagai bentuk gerakan memasyarakatkan gerakan antikorupsi. Tapi bagi yang tidak tahu akan terus-terusan bertanya: maksudnya apa hingga ia menemukan buku, atau orang yang bisa menjelaskannya.
Hal yang sama terjadi pada mural monyet bertuliskan What the Fuck Vote atau gambar komedia legendaris Benyamin Sueib yang berkata, “Dulu kompeni, sekarang kapitalisme, same aja penjajah, muke gile!”
Namun, meski mengibarkan bendera komunitas yang legal dan berkonsep, mereka sempat mendapat cipratan makian. Gara-garanya, seorang penjaga gedung Bank Indonesia (BI) jengkel dengan coret-coretan tak jelas di dinding BI. Celakanya, 12 PM yang mau berangkat ke sebuah acara mural, mampir di dekat gedung BI untuk makan.
“Kita kan bawa cat banyak, kuas segala macam. Nah dikira yang nyoretin tembok BI itu kita. Jadilah kita dimarahi habis-habisan. Tapi akhirnya bapaknya bsia mengerti setelah kita jelaskan,” katanya.
Dari peristiwa itu, 12 PM pun berpikir bagaimana caranya agar bomber tak dipandang sebelah mata. Akhirnya, muncul ide untuk menyatukan para bomber Semarang dalam satu wadah. “Kita pengin mencari temen-temen lain yang punya ide yang sama dengan kita, kita ajak masuk komunitas dan selenggarakan acara bersama yang besar. Seperti menggambar gedung BI misalnya ha..haa…ha….” (ANTON SUDIBYO)

Sumber : Radar Semarang | Senin, 26 Oktober 2009
Photo by : eFKa

a>







as we know, media always have their own way to report something. Hyperbolic and sometimes misspelled. For the official story about us please visit us on http://12pmclan.blogspot.com/ . Thank you. Respect!
Dah ada Blog nya… mantab..
Ada yang mau di Koreksi Artikle nya?
Sejauh ini tidak ada hal mendasar yang perlu diluruskan. “PM” dalam nama kami tidak secara absolut berarti Piece Maker. Setiap dari kami pun mengartikannya berbeda.. :) Pembuat Masalah, Pedagang Musiman, Public Monsters, apapun..
Respect for Local HipHop!
tempat nongkrong di kucingan pahlawan tepatnya dimana? kalo saya punya tembok kosong bisa corat coret di tembok saya?
kapan ni ada festival street art lg?
bs mnta nmer nya mas arif.aku webas dr kalimantan kuliah di smg.dlu di kalimantan sring bkin graffiti.sya lg nyari komunitas graffiti di smg.